BUMN Rugi Triliunan & Proyek Pemerintah yang Mubazir

BUMN yang "Tidak Mungkin Rugi" Tapi Rugi

Perusahaan-perusahaan ini memiliki monopoli/semi-monopoli pasar, captive customer, dan subsidi pemerintah — seharusnya tidak mungkin rugi. Tapi korupsi + mismanagement membuatnya rugi:

BUMNRevenueRugi/MasalahKenapa Mustahil Rugi
Garuda IndonesiaRp50T/tahunRugi Rp30T kumulatifMonopoli rute domestik + haji
PLNRp350T/tahunUtang Rp500T+MONOPOLI listrik seluruh Indonesia
PertaminaRp900T/tahunRugi Rp20T+ (subholding)MONOPOLI BBM + gas
Krakatau SteelRp30T/tahunRugi 8 tahun berturutProteksi impor + captive market
Pos IndonesiaRp5T/tahunRugi Rp1.5T4,800 kantor pos monopoli
Merpati AirlinesRp2T/tahun (dulu)Bangkrut totalSubsidi rute perintis

PLN case study:

  • SATU-SATUNYA penjual listrik ke 80 juta pelanggan
  • Tidak ada kompetitor APAPUN (monopoli absolut)
  • Harga ditetapkan pemerintah (bisa naik kapan saja)
  • TETAP utang Rp500T+
  • Alasan: korupsi pengadaan, proyek fiktif, overstaffing (50K+ pegawai)

Garuda case study:

  • Captive market haji (100K+ penumpang/tahun, harga ditetapkan)
  • Pinjaman dijamin pemerintah (default = taxpayer yang bayar)
  • Rute monopoli ke 20+ kota kecil
  • TETAP rugi Rp30T kumulatif
  • Alasan: mark-up pengadaan pesawat, tiket gratis pejabat, 6,000 karyawan untuk kapasitas yang bisa di-handle 2,000

Proyek Pemerintah yang Mubazir

ProyekAnggaranMasalah
Hambalang (sport center)Rp2.5TMangkrak, korupsi, dikerjakan 2x budget
IKN NusantaraRp500T+ (est)Sepi, pindah tapi pegawai tidak mau
Kereta Cepat Jakarta-BandungRp126T (dari Rp72T)Over-budget 75%, demand rendah
E-KTPRp5.9TRp2.3T dikorupsi (40% budget)
Palapa Ring (internet)Rp7TBanyak daerah tetap slow/mati
Tol LautRp20T+Kapal kosong, subsidi tanpa demand

Regulasi yang Menghambat Startup

1. Perizinan berlapis-lapis (bureaucracy tax):

  • PT baru: 2-4 minggu + Rp10-50M (bisa 1 hari di Singapura, $300)
  • NIB + KBLI: harus tepat, salah kode = izin ditolak
  • Setiap perubahan (tambah KBLI, pindah alamat): proses ulang
  • Perizinan berbeda di setiap daerah (retribusi lokal, aturan tambahan)

2. Regulasi fintech yang membunuh inovasi:

  • OJK sandbox: 1-2 tahun proses, fee Rp500M+
  • Bappebti license (crypto): Rp50M+ fee, 6-12 bulan proses
  • Payment license (BI): 12-18 bulan, modal minimum Rp15B
  • Hasilnya: startup fintech harus raise $5-10M SEBELUM bisa beroperasi

3. Pajak yang anti-UMKM digital:

  • PPn 11% harus dipungut (bahkan untuk SaaS Rp50K/bulan)
  • PPh final 0.5% dari omzet (bukan profit) — rugi tetap bayar pajak
  • Biaya compliance (akuntan, e-faktur): Rp5-10M/tahun minimum
  • UMKM fisik bisa hide revenue (cash), digital startup ter-track 100%

4. Data localization & censorship:

  • PSE (Penyelenggara Sistem Elektronik) registration wajib
  • Data center harus di Indonesia (mahal, lambat)
  • Kominfo bisa blokir platform sewaktu-waktu tanpa due process
  • Content moderation requirements yang vague

5. Proteksionisme yang kontraproduktif:

  • Wajib TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) untuk software pemerintah
  • Tapi tidak ada investasi di developer lokal
  • Foreign startup dibatasi, tapi lokal tidak difasilitasi
  • Hasilnya: market stuck, tidak ada yang bisa grow

Impact ke Startup Indonesia

Cost of regulatory compliance per year:

AktivitasBiayaWaktu
Pendirian PT + izinRp50-100M1-2 bulan
Pajak & accountingRp60-120M/tahunOngoing
Legal (kontrak, TnC, privacy)Rp50-100M/tahunOngoing
PSE + complianceRp30M/tahunOngoing
Fintech license (if applicable)Rp500M-2B12-24 bulan
Total minimumRp200-400M/tahun

Artinya startup Indonesia harus generate Rp200-400M revenue/tahun HANYA untuk bayar compliance sebelum bisa invest di product/growth.

Di Singapura: compliance cost ~$10K/tahun ($150K di Indo).
Di US (Delaware LLC): ~$5K/tahun.

Ini "regulatory tax" yang membuat startup Indonesia mulai dengan handicap.

Kenapa Apple Ventures Bisa Bypass

  1. Cloudflare = global infrastructure — tidak terikat data localization (server di edge global)
  2. Belum PT — operate as individual (0.5% PPh final) sampai revenue justify PT cost
  3. No fintech license needed — kita platform informasi, bukan financial intermediary
  4. PSE registered — simple compliance, no data center needed
  5. 442 domains = 442 potential PT/brands jika needed, tapi operate as 1 entity sekarang
  6. Lean by design — compliance cost same whether 1 or 30 products (1 entity, 1 accountant)